jump to navigation

Gaji PNS, TNI, Polri, dan Pensiunan Dipastikan Naik 5 Persen


Jawa Pos, Selasa, 04 Agustus 2009

Presiden Bacakan RAPBN 2010

JAKARTA – Gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI, Polri, dan pensiunan tahun depan dipastikan naik lagi. Namun, kenaikannya hanya 5 persen atau tidak sebesar tahun ini yang mencapai 15 persen. Dengan asumsi inflasi tahun depan juga 5 persen, praktis secara riil gaji pokok PNS tidak naik. Untungnya, masih ada kenaikan uang makan untuk PNS dan uang lauk-pauk bagi TNI dan Polri. Selain itu, ada pula gaji ke-13.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, dalam RAPBN 2010, belanja pegawai Rp 161,7 triliun atau naik Rp 28 triliun (21 persen) dari perkiraan realisasi 2009. ”Alokasinya, antara lain, untuk memperbaiki penghasilan aparatur negara dan pensiunan melalui kenaikan gaji pokok dan pensiun pokok rata-rata 5 persen,” kata presiden dalam pidato pengantar Nota Keuangan RAPBN 2010 di depan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR, Jakarta, kemarin (3/8).

Menurut SBY, uang lauk-pauk bagi TNI dan Polri dinaikkan dari Rp 35.000 menjadi Rp 40.000 per hari. Uang makan untuk PNS pusat naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 20.000 per hari kerja. “Dengan langkah perbaikan penghasilan pegawai yang dilaksanakan selama 2004-2009, pendapatan PNS golongan terendah dapat ditingkatkan 2,5 kali. Yaitu dari Rp 674.000 per bulan pada 2004 menjadi Rp 1.721.000 pada 2009,” imbuh SBY.

Pemerintah juga mengalokasikan anggaran khusus untuk tunjangan profesi guru Rp 8,9 triliun yang disalurkan lewat Dana Alokasi Umum (DAU) ke daerah. Tunjangan tersebut diberikan kepada guru dan dosen yang memiliki sertifikat pendidik. Untuk melanjutkan kebijakan penghasilan terendah guru Rp 2 juta per bulan, dalam RAPBN 2010 juga dialokasikan dana tambahan Rp 7,9 triliun.

SBY mengingatkan, Indonesia perlu terus menjaga kewaspadaan dari tekanan pada sektor keuangan dan perbankan pada 2008 hingga awal 2009. Tahun-tahun mendatang, tambah dia, adalah masa yang tidak mudah dan penuh tantangan. “Saya ingin mengajak segenap komponen bangsa untuk menatap ke depan lebih tegar, percaya diri, dan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai cita-cita bersama,” katanya.

Meski sudah muncul nada optimisme, nota keuangan kemarin tetap menyinggung kewaspadaan terhadap dampak lanjutan krisis keuangan dunia. Ini berbeda dengan euforia RAPBN 2009 yang begitu disahkan parlemen langsung dinyatakan akan direvisi karena diterpa badai krisis keuangan dunia.

Secara rinci, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2010. Kemudian tingkat inflasi 5 persen, nilai tukar rupiah Rp 10.000 per USD, dan suku bunga SBI 3 bulan 6,5 persen. Harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia (ICP) USD 60 per barel serta lifting (produksi siap jual) minyak mentah 965 ribu barel per hari.

Berdasar sejumlah asumsi makro yang diproyeksikan, presiden mengusulkan anggaran pendapatan dan hibah Rp 911,5 triliun. Jumlah itu meningkat Rp 38,8 triliun jika dibandingkan dengan target RAPBN Perubahan 2009. Penerimaan dari perpajakan tetap menjadi andalan dengan target Rp 729,2 triliun. Kemudian, belanja negara diproyeksikan Rp 1.009,5 triliun, lebih tinggi Rp 3,8 triliun daripada RAPBNP 2009.

Dengan begitu, defisit anggaran 2010 direncanakan Rp 98 triliun atau 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit ini menurun jika dibandingkan target dalam RAPBNP 2009 Rp 133,0 triliun atau 2,5 persen PDB. Untuk menambal defisit, pemerintah akan menggunakan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri Rp 107,9 triliun, sedangkan sisanya dari utang luar negeri.

Dari sisi belanja negara, pemerintah menganggarkan Rp 699,7 triliun. Alokasinya, untuk kementerian/lembaga Rp 327,6 triliun, naik Rp 10,6 triliun daripada perkiraan realisasi 2009.

Karena suasana masih krisis, anggaran sejumlah lembaga dipotong. Misalnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Departemen Perhubungan (Dephub), dan Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Sebaliknya, ada yang anggarannya bertambah. Di antaranya, Departemen Pertahanan (Dephan), Departemen Kesehatan (Depkes), dan Departemen Agama (Depag).

Miskin Terobosan

Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian di era Gus Dur, mengkritik penetapan target pertumbuhan ekonomi 5 persen. Dia menggambarkan, dengan target itu, pemerintahan SBY lima tahun ke depan akan miskin terobosan. “Tahun depan ekonomi Asia akan bangkit, disusul penguatan ekonomi Amerika pada pertengahan tahun. Kasarnya, pemerintah tidur, tidak ngapa-ngapain saja, pertumbuhan ekonomi bisa 4-5 persen. Kalau target hanya 5 persen, apa kerja pemerintah?” ujar Rizal kemarin.

Sebagai ilustrasi, ekonomi Singapura yang sempat minus pada kuartal pertama 2009 kini sudah stabil di kisaran tujuh persen. Dia menilai, pemerintah Singapura mampu memanfaatkan kebangkitan perekonomian dunia dengan menggenjot program kreatif.

Mestinya, dengan sedikit terobosan dari pemerintah, ekonomi Indonesia tahun depan akan tumbuh 6-7 persen. “Jangan sampai ekonomi kita yang aman waktu krisis finansial justru terlambat bangkit jika dibandingkan dengan negara-negara yang berantakan. Ini momentum, jangan berpikir bussiness as usual,” paparnya.

Kritik terhadap postur APBN 2010 juga dikemukakan Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis. Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi 5 persen menunjukkan pemerintah tidak optimistis. ”Panitia Anggaran maunya 7 persen,” ujarnya.

Menurut dia, dalam menetapkan target pertumbuhan ekonomi, pemerintah selalu memakai referensi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memang cenderung pesimistis. ”Seharusnya, pemerintah melakukan best effort dan berani mematok 7 persen,” katanya.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo menambahkan, pemerintah bisa saja memacu pertumbuhan pada 2010 hingga 7 persen. Syaratnya, sektor swasta harus didorong, terutama sektor riil. ”Selama ini, banyak insentif diberikan untuk sektor keuangan. Ke depan, insentif itu harus digeser ke sektor riil,” imbuhnya. Selain itu, penyerapan anggaran pada 2010 diperkirakan masih berjalan lambat. Soalnya, birokrasi yang berbelit-belit masih belum hilang. ”Pemerintah harus bekerja keras untuk membenahi hal ini,” tambah ekonom Indef itu.

Mengenai asumsi harga minyak Indonesia (ICP) yang dipatok USD ++++ 60 per barel, anggota Komisi VII DPR Alvin Lie menilai masih cukup realistis. Sebaliknya, Menteri Keuangan sekaligus Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati justru khawatir asumsi harga minyak meleset.

Menurut dia, harga minyak dunia masih belum menentu dan sulit diprediksi. Ani -sapaan Sri Mulyani Indrawati- menyebut, fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh USD 145 pada 3 Juli 2008 dan anjlok hingga USD 31 pada 22 Desember 2008 masih berpotensi terjadi. ”Karena itu, kita ambil harga patokan USD 60 per barel,” ujarnya.

Bagaimana jika harga minyak kembali melonjak? Menurut mantan ketua LPEM FE UI tersebut, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Jika kondisi tersebut terjadi, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, menambah besaran subsidi energi. Kedua, menaikkan harga BBM. ”Opsi-opsi ini masih kami bahas dengan DPR sebagai antisipasi jika harga minyak kembali melonjak,” katanya. (sof/owi//noe/oki)

Sumber : http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=83858

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: